Rabu, 27 Juli 2016

Fawaid Dari Mbah Fadhol Pamotan


Oleh - oleh waktu sowan Mbah Fadlol Pamotan

( senin 26 juli 2016 )

" Guruku Mbah Zubair Sarang ( ayahanda Syeh Maimun Zubair ) iku kiyai Tulen rino wengi isine mung ngaji tur ngajine yo kepenak, nek bar magrib sampai jam 9 bengi ngaji kitab Asybah wan nadloir terus ngaji kitab tafsif Baidlowi mulai jam 9 sampai jam 11 bengi nek aku koyok ngono yo wes dengke'en gegerku mulane aku dadi kiyai cilik lah "

" Mbah Fadlol Senori iku yo guruku , apal Alqur'an mung itungan sak wulan, mondok'e neng Mbah Hasyim Asy'ari kanti mongso sediluk tur yo di tes Mbah Hasyim lan lulus , boyong dadi ulama seng ora kepincut dunio tur iso ngarang kitab akeh ,

" Gus Sahal Mahfudz Kajen iku koncoku mondok no Sarang , wonge Alim tur dadi kiyai gede lan kondang tapi gak apal Alqur'an , nek aku dadi kiyai cilik lah tapi lak apal Alqur'an lan Alhamdulillah yo sak tafsire "

" Saben dino aku wajib ngatamno Alqur'an sepisan mergo wong apal Alqur'an iku abot sanggane tanggung jawabe yo gede , 5 dino gak nderes iku ae wes do amburadul apalane "

" wong apal Alqur'an kok kanggo golek duwit contone nek diundang kok grundel mergo sangune kurang kandel iku neroko ancamane koyok ngendikane Alqur'an

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُوْلَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

" aku ngaji tafsir Jalalain wes 56 tahun yo wes 56 khataman mulane apal tafsire "

" ngaji ihya' ulumuddin iku aturane ora oleh gowo pakaian seng apik-apik , nek iso gombal2 seng wes diguwak iku kumbah seng resik terus nggo ngaji "

" Kiyai Maimoen iku umure wes 90 tahun nek aku 79 tahun "

" Nek kuwe didalili Kiyai Maimun yo klepek-klepek nek aku yo wani mbales mergo podo kiyaine tur zaman enom yo ngumpul bareng neng pondok  "

" zaman umur 17 tahun aku pernah mati amergo ceblok ko wit klopo , waktu aku wes dilebokno liang kubur tur arep diuruk, aku urip maneh , Alhamdulillah terus digampangake mahami ilmu lan ngapalno Alqur'an lan sampai saiki aku gak tau loro / sakit "

" Kuwe kabeh iku adoh - adoh soko Pati pingin dolan ngomahku mugo-mugo kelebu ngendikane Rosululloh SAW

من زار عالما وحافظا من القرآن فقد زارنى فى حياتى

Sopo wonge dolan maring wong Alim lan wong seng apal Alqur'an podo ugo wonge dolan maring aku ( Rosululloh ) ingdalem  waktu gesangku "

" seng dimaksud wong alim iku seng ora kecampur pegawai negri , nek alim kok seneng kecampur pegawai negri mongko iku nggorohi ( berdusta ) maring Kanjeng Nabi lan wong-wong iku tergolong Maling "

" Elek-elek'e umate Kanjeng Nabi iku seng ora gelem nikah lan apik-apik'e umate kanjeng Nabi iku bojone 4 seng iso adil , nek aku bojo sijilah mergo adil iku abot sanggane "

" Iki omahe anakku seng lagi dibangun nek aku dewe gak pingin nduwe omah apik mergo apik- apik'e omah iki iseh apik omah sok mben "

" Nek sok aku dilebokno suwargo mugo-mugo wong seng ngaji karo aku , wong seng lungguh bareng karo aku iso tak geret mlebu bareng karo aku "

Semoga panjang umur

Amin
Sumber: Ust Moh Ilhamuddin Pati

Sabtu, 23 Juli 2016

PERUBAHAN JADWAL PAMERAN Turats Ulama Nusantara

PERUBAHAN JADWAL PAMERAN Turats Ulama Nusantara
=======================

Kepada teman-teman facebook Pecinta Ulama Nusantara, kami informasikan terkait perubahan jadwal acara Pameran Turats Ulama Nusantara. Berikut informasi dari pihak panitia;

PENGUMUMAN PENTING

Assalamu Alaikum Warahmatullah

Karena ada banyak hal dan pertimbangan, jadwal acara pameran Turats Ulama Nusantara dipersingkat. Yang semula jam 09.00-19.00 wib, senin-sabtu 1-6 agustus 2016, dipersingkat menjadi 09.00-16.00 wib senin-rabu, 1-3 agustus 2016.

Dari panitia acara memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perubahan jadwal pameran dan terimakasih banyak atas kemaklumannya.

Wassalamu alaikum Warahmatullah

NB: MOHON SHARE JADWAL BARU INI

Senin, 18 Juli 2016

MENELADANI KEWIRA'INAN KH. M. MA'RUF IRSYAD KUDUS


Diriwayatkan oleh H. A. Muttaqin Waka Kesiswaan MTs. NU TBS Kudus. Pernah suatu ketika ada acara besar di madrasah TBS dan pak Taqin sebagai penanggungjawab acara. Salah satu pengisi acaranya adalah KH. Ma'ruf Irsyad guru sepuh TBS. Menjelang acara pak Taqin berangkat menjemput Yai Ma'ruf menuju madrasah Mu'allimat tempat dimana beliau sedang mengajar.
Selesai acara, pak Taqin menawarkan beliau untuk diantar pulang ke dalem beliau saja karena dalem beliau letaknya berada sebelum Mu'allimat dan sepeda onthel di Mu'allimat yang beliau pakai berangkat mengajar biar nanti diantar pak Taqin ke dalem beliau. Maksud pak Taqin biar beliau tidak repot naik sepeda kembali ke dalem, namun tawaran pak Taqin beliau tolak. "Jangan! antar kembali ke Mu'allimat saja. Onthel itu pinjaman saudara saya untuk keperluan saya mengajar. Kalau kamu naiki untuk dikembalikan ke rumah berarti saya meminjamkan barang pinjaman tanpa izin pemiliknya. Repot sedikit tidak apa yang penting tidak dosa".
Subhanallah betapa beliau begitu kuat dalam menjaga amanah. Wal 'iyaadzu Billah betapa sering kita tidak menjaga sifat wara' kita sehingga mudah sekali meminjamkan barang pinjaman tanpa izin pemiliknya.
Semoga kita bisa meneladaninya sifat wira'i Syaikhina wa Syaikhikum dan semoga amal baik beliau diterima serta mendapat pahala berlipat ganda.

Sumber : Abi Nala wa Bimbim

Jumat, 08 Juli 2016

آداب الحسن البصري وزهده ومواعظه

آداب الحسن البصري وزهده ومواعظه، للإمام أبي الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد بن علي بن الجوزي رحمه الله
رابط التحميل archive.org/11/items/FP125109/125109.pdf

إتحافُ الزائر وإطرافُ المقيمِ للسائرِ في زيارة النبي ﷺ

إتحافُ الزائر وإطرافُ المقيمِ للسائرِ في زيارة النبي ﷺ
للإمام الحافظ عبد الصمد بن عبد الوهاب بن عساكر الدمشقي الشافعي رحمه الله تعالى

رابط التحميل :
https://archive.org/download/abuyaala_ithaf_zair/ithaf_zair.pdf

صور من حياة الصحابيات

صور من حياة الصحابيات
للشيخ عبد الرحمن رأفت الباشا

https://archive.org/details/FPsohasasohasa

Penggunaan Kata Sayyidina Menurut KH. Sya'roni Ahmadi Kudus

Mahbib, NU Online | Jumat, 08 Juli 2016 19:00

Seiring dengan bertumbuhkembangnya beberapa paham di Indonesia, terdapat sebagian kelompok yang gemar menyalahkan amaliyah nahdliyah yang telah berjalan mengakar di tengah masyarakat. Tak sedikit dari mereka saling beradu argumen dengan masing-masing pihak tanpa memahami duduk permasalahan secara utuh. 

Seperti perdebatan penggunaan kata “sayyidina” dalam shalawat Nabi. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya boleh berdasarkan nash Al-Qur’an secara sharih (jelas). Adapun orang yang tak setuju itu semata dikarenakan mereka tak paham.

Lafadh as-sayyid merupakan lafadh kulli musytarak, yaitu satu lafadh yang mempunyai makna lebih dari satu arti. Demikian penjelasan Kiai Sya’roni pada salah satu pertemuan pengajian Tafsir Al Jalalain rutin setiap Jumat pagi di Masjid Al Aqsha, Menara Kudus.

Kiai sepuh ini menjelaskan bahwa “sayyidina” mempunyai tiga arti. Hal ini mengacu pada beberapa sumber :

Pertama, as-sayyid yang bermakna Tuhan sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari Muslim الَّسيِّدُ اللهُ. Tuhan itu Allah. Kalau seorang muslim mengucapkan “Sayyidina Muhamad” dengan maksud memakai makna tuhan, “Tuhan itu Muhammad” maka yang mengatakan demikian hukumnya jelas kufur (keluar dari Islam).

Kedua, as-sayyid yang mempunyai arti suami sebagaimana disebut dalam QS Yusuf: 25 

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَّأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ، الاية

Artinya, "Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu." 

Pada ayat ini, as-sayyid tidak dapat dimaknai sebagai raja, Tuhan, namun mempunyai makna “suami”. Antara makna yang pertama dengan kedua ini telah jelas ada perbedaannya. Memakai lafadh sayyid pada Nabi Muhammad dengan maksud sebagai suami salah. 

Ketiga, as-sayyid mempunyai arti pimpinan sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran: 

فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّىْ فِىْ الْمِحْرَابِ اِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُوْرًا وَنَبِيَّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya, "Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadiikutan (pemimpin) menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang shalih." 

Pada ayat ini jelas bahwa Allah menyebut Nabi Yahya dengan sebutan sayyid. Ini baru Nabi Yahya. Padahal Nabi Muhammad itu pimpinan para nabi dan rasul, maka sudah sangat patut jika kita menyebutnya dengan memberi imbuhan kata sayyid, sebab Nabi Muhammad secara derajat masih di atas Nabi Yahya (qiyas aulawiy).

Dengan keterangan KH Sya’roni di atas, diharapkan umat dapat memahami persoalan secara mendalam sehingga tidak ada saling tuduh. Akhirnya umat akan dingin, tak ada pertengkaran dan saling klaim, hanya untuk persoalan yang bersifat furu’iyah (bukan fundamen agama). Hal ini dapat tercipta jika masing-masing berkenan memahami agama secara menyeluruh dan mendahulukan hati, pikiran dengan benar bukan nafsu dan emosi.(Mundzir)

Sumber:

http://www.nu.or.id/post/read/69617/penggunaan-kata-sayyidina-menurut-kh-syaroni-ahmadi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter